Sistem Kekerabatan Orang Madura Dikampung Pematang Rambai

oleh -1 views

Dalam masyarakat Madura, ikatan kekerabatan terbentuk melalui garis keturunan, baik dari keluarga berdasarkan garis ayah maupun garis ibu (paternal and maternal relatives). Pada umumnya, ikatan kekerabatan antar sesama anggota keluarga lebih erat dari garis keturunan ayah sehingga cenderung “mendominasi” dalam banyak hal dalam sistem keluarga. Ikatan kekerabatan orang Madura mencakup sampai empat generasi ke atas (ascending generations) dan ke bawah (descending generations).

Dalam sistem kekerabatan masyarakat Madura dikenal tiga kategori sanak keluarga atau kerabat (kinsmen), yaitu:
1. Taretan Dhibi’ (kerabat inti atau Core Kin),
2. Taretan Semma’ (kerabat dekat atau Close Kin), dan
3. Taretan Jau (kerabat jauh atau Peripheral Kin).

Secara umum orang Madura yang mendiami kampung Pematang Rambai masih punya hubungan keluarga. Garis keturunan mereka dapat ditelusuri asal muasalnya dari tokoh kampung yang bernama Tobin. Menurut penuturan Ibu Samuah bin Serang, menantu dari Bapak Tobin yang merupakan isteri dari almarhum Seraman Bin Tobin. Bahwa almarhum bapak Tobin diperkirakan mendiami kampung Pematang Rambai sekitar tahun 1930- an.

Ibu Samuah Menyiapkan Sesajen untuk Ritual Rokat

Almarhum suaminya yakni Seraman Bin Tobin lahir di kampung Pematang Rambai Pada tanggal 1 Juli Tahun 1953. Seraman adalah adalah anak bungsu dari bapak Tobin dengan pasangan isterinya yang bernama Sapi’a. Dari pernikahannya dengan Sapi’a, bapak Tobin dikaruniai 6 orang anak yang masing-masing di berinama :
1. Kromo bin Tobin
2. Saman bin Tobin
3. Sani’a bin Tobin
4. Jati bin Tobin
5. Toni bin Tobin
6. dan Seraman bin Tobin.

Jika dirunut dari nama-nama diatas maka dapat dipastikan ada dua bentuk keturunan di kampung Pematang Rambai. Pertama ; melalui orang yang memiliki aliran darah keturunan yang sampai pada bapak Tobin dan Be’ Rus. Sedangkan yang kedua, yakni orang yang berkaitan karena faktor perkawinan atau pernikahan.

Di luar kategori diatas disebut sebagai oreng luar (orang luar) atau “bukan saudara”. Dalam kenyataannya, meskipun seseorang sudah dianggap sebagai oreng luar tetapi bisa jadi hubungan persaudaraannya lebih akrab daripada kerabat inti, misalnya karena adanya ikatan perkawinan atau Kin Group Endogamy.

Hubungan sosial yang sangat akrab juga dibangun oleh orang Madura di Kampung Pematang Rambai dengan orang-orang di luar lingkungan kerabat tanpa memperhatikan asal-usul kelompok etnik. Misalnya, Jalinan sosial atau hubungan baik antara orang Madura dengan beberapa orang yang ber-etnis Jawa yang tinggal di Kampung Pematang Rambai.

Dalam interaksi sosial, hampir tidak pernah dijumpai gesekan sosial atau keributan antar etnis di kampung tersebut. Masyarakat Jawa yang secara jumlah tergolong minoritas tidak pernah diperlalukan hal-hal yang tidak baik ditengah komunitas orang Madura yang mayoritas. Hubungan sosial kemasyarakatan antara orang Madura dengan orang Dayak juga sangat baik. Bahkan anak pertama dari bapak Tobin yakni Kromo bin Tobin pernah menikah dengan salah seorang perempuan dari suku Dayak yang bernama Ebet. Dari pernikahan keduanya lahir dua orang anak yang bernama Untung dan Muzekki.

Sejak kampung Pematang Rambai beridiri, perkawinan silang antar orang Madura dengan orang Dayak biasa terjadi. Tidak sedikit perempuan Madura yang menikah dengan orang Dayak. Pun juga sebaliknya, tidak sedikit Laki-laki dari orang Madura yang menikah dengan perempuan Dayak. Meskipun terjadi perpindahan agama karena umumnya agama Islam mewajibkan pasangannya menganut agama Islam, mereka yang melakukan pernikahan silang tetap menjaga keharmonisan dengan orang tuanya.

Hubungan sosial antara Madura dan Dayak juga ada yang didasarkan pada adanya kesamaan dalam dimensi pekerjaan seperti bercocok tanam dan menoreh, serta kesamaan kepentingan di bidang ekonomi yang lain. Jadi, tidak sedikit orang Madura di kampung Pematang Rambai yang menjalin hubungan keluarga dan hubungan sosial-ekonomi.

Bila kualitas hubungan sampai mencapai tingkatan yang sangat akrab, mereka akan dianggap dan diperlakukan sebagai keluarga atau kerabat (taretan). Sebaliknya, ada kalanya anggota keluarga (taretan termasuk taretan ereng) justru dianggap dan diperlakukan sebagai oreng (bukan keluarga atau kerabat) jika kualitas hubungan kekerabatannya sangat rendah, misalnya karena adanya perselisihan tentang harta warisan dalam keluarga.

Dalam ungkapan Madura, hal yang demikian disebut Oreng Daddi Taretan, Taretan Daddi Oreng. Artinya, orang lain yang bukan keluarga dapat dianggap sebagai saudara, sebaliknya saudara sendiri dapat dianggap sebagai bukan keluarga. Dalam konteks ini, unsur kekerabatan orang Madura mengandung makna inklusivitas bukan ekslusivitas sebagaima yang sering dicitrakan kepada orang Madura. Citra inklusivitas oleh orang Madura perlu dibangun dalam hubungan sosial dengan etnik lain sehingga memberi ruang bagi terwujudnya integrasi sosial dengan kelompok etnik-etnik yang ada di pulau Kalimantan.

– Tulisan ini adalah bagian dari buku Rokat Kampung

Tentang Penulis: Abdoel Hamid

Gambar Gravatar
Blogger , penyiar radio misem dan penulis sosial budaya khususnya masyarakat madura kalimantan barat
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments