Perempuan Pertama Yang Melakukan Ritual Nyarong

oleh -2 views

Pagi itu cuaca nampak cerah, setelah semalaman Kampung Pematang Rambai diguyur hujan. Cahaya sinar matahari menembus celah-celah pohon karet yang berjejer di belakang rumah Ibu Samu’ah. Beberapa orang keluar dari rumah ibu Samu’ah membawa sesajen yang sudah disiapkan satu hari sebelumnya. Sesajen dibawa dengan nampan menuju persawahan yang menjadi pusat dilakukannya ritual rokat kampung.

Rohmah (24 tahun), Anak bungsu perempuan dari Almarhum Kromo Bin Tobin bersiap -siap untuk melakukan ritual nyarong. Tahun lalu, adalah tahun pertama kalinya Rohmah melakukan ritual nyarong. Saat itu, Purawi (Sepupu dari Rohmah) yang biasa melakukan ritual Nyarong, Memberikan gelang dan ikat kepala merah kepadanya untuk memanggil roh leluhurnya.

Pemberian ikat kepala dan gelang menjadi simbol diangkatnya Rohmah sebagai perempuan pertama yang melakukan ritual Nyarong. Sebuah ritual yang sakral dalam tradisi rokat kampung di Pematang Rambai. Diangkat nya dia sebagai Penyarong atau Kayangan selain karena faktor keturunan dari Kromo Bin Tobin juga karena Rohmah sudah mengalami beberapa kali kerasukan arwah dari para leluhurnya. Roh-roh leluhurnya seolah-olah mengisyaratkan kepada dia untuk menjadi seorang Penyarong.

Kekuatan magisnya didapat melalui petunjuk mimpi dari bapaknya. Menurut warga sekitar, Rohmah seringkali kerasukan roh-roh leluhurnya. Rohmah bisa berkomunikasi dengan para roh leluhurnya ketika ia mengalami kesurupan.

Menjadi seorang penyarong bukanlah perkara mudah. Penyarong harus memiliki dua kriteria ; pertama, penyarong yang menguasai mahluk halus seperti jin, dan dapat memanggil atau mendatangkan roh-roh nenek moyang sesuai keinginannya. Kedua, penyarong harus bisa dirasuki atau dikendalikan oleh jin dan roh roh nenek moyang leluhurnya, sehingga dia menjadi perantara untuk berkomunikasi dengan orang lain. Cirinya dia mengalami kesurupan (trance) dan bahkan suaranya dapat berubah bergantung dengan roh leluhurnya yang masuk.

Pemanggilan terhadap roh-roh leluhur, mula-mula diawali dengan membunyikan gelang kaki dan menggenggam telur ayam kampung. Gelang tersebut adalah gelang yang pertama kali dipakai oleh Kromo Bin Tobin dalam melaksanakan ritual rokat. Sampai saat ini, gelang tersebut masih utuh disimpan dan digunakan dalam ritual. Gelang tersebut digoyang-goyangkan di dekat telinga Kayangan atau orang yang melakukan ritual nyarong.

Kedatangan roh-roh leluhur biasanya bersamaan dengan angin yang bertiup. Angin yang bertiup didengar dengan isyarat telinganya. Saat itulah, tubuh Rohmah tiba-tiba tumbang. Dia tidak sadarkan diri. Saat seperti ini, Pak Salebun salah seorang pembantu dari Kayangan membangunkannya. Yang dipanggil sudah datang.  Kali ini, Roh leluhur yang datang merasuki jiwa Rohmah adalah Datok Bisu. Rohmah memukul-mukul kepalanya dengan pisau dan batu. Dia sedang dalam kendali roh leluhurnya, tidak merasakan sakit sedikitpun.

 

Dia tidak berbicara, hanya memeriksa sesajen. Pak Salebun dan Purawi berkomunikasi dengan roh leluhur yang masuk kedalam tubuh Rohmah.

Cari ape To’? Tanya Purawi sambil ikut membantunya mencari apa yang dicari. Tubuh Rohmah menggeleng. Beberapa sesajen yang disodorkan tidak digubris. Rohmah hanya mengambil sebuah telur yang ada didalam kapal sesaji. Dia kemudian berjalan ketepian sungai. Tubuhnya sedang dalam kendali roh leluhurnya. Datok Bisu. Pak Salebun membuntuti dari belakang. Merayu agar Datok Bisu kembali ke alamnya, karena sudah anak cucunya sudah melakukan ritual rokat.

 

Tubuh Rohmah terus dalam kendali Datok Bisu. Setelah berjalan ketepian sungai dia kembali ketempat mengambil sesaji. Kali ini yang diambilnya adalah ayam kampung yang sudah  dimasak dengan dipanggang. Dimakannya dengan lahap. Kemudian setelah makan dan minum sesaji. Datok Bisu keluar dari tubuh Rohmah.

 

Selesai sudah pemanggilan roh leluhur. Tubuh Rohmah terlihat lemas. Pikirannya mulai sadar. Orang-orang merapikan dan mengemas sesaji yang dibawanya. Ritual rokat kampung kemudian ditutup dengan doa tolak balak secara agama Islam.

 

Ritual Rokat kampung masyarakat Madura di Kampung Pematang Rambai memang tergolong sangat unik, karena masih ada unsur animisme dalam ritual tersebut. Menurut Birx dalam bukunya Encyclopedia of Anthropology Secara umum, penganut animisme percaya bahwa kekuatan ghaib (supernatural) dapat menghuni pada binatang, tumbuhan, batu karang, dan obyek-obyek lain secara alami. Kekuatan ini diimpikan sebagai roh-roh atau jiwa-jiwa

Kehidupan masyarakat Madura di kampung Pematang Rambai banyak diwarnai oleh hal-hal yang bersifat mistik atau kepercayaan pada sesuatu yang ghaib, sesuatu yang tidak tampak wujud aslinya secara fisik. Realitas kehidupan masyarakat Madura ini banyak dipengaruhi oleh kepercayaan terhadap mahluk gaib dan budaya masyarakat yang melingkupinya. Fakta ini diperkuat oleh kondisi masyarakat Madura di kampung Pematang Rambai yang pada masa lalunya. Yang memiliki kepercayaan dan keagamaan yang sangat kuat dengan tradisi-tradisi ritual agama dan kemasyarakatan. Dalam agama Islam sendiri, agama yang banyak dianut oleh orang Madura, memang membenarkan adanya mahluk gaib dalam alam semesta ini.

 

Tentang Penulis: Abdoel Hamid

Gambar Gravatar
Blogger , penyiar radio misem dan penulis sosial budaya khususnya masyarakat madura kalimantan barat
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments