Kampung Pematang Rambai

oleh -1 views

Secara geografis kampung Pematang Rambai merupakan wilayah Dusun Karya Usaha Desa Kuala Mandor A Kecamatan Sungai Ambawang Kabupaten Kubu Raya. Jarak tempuh dari Kota Pontianak, Ibu Kota Provinsi Kalimantan Barat ke kampung Pematang Rambai kurang lebih 28 Kilometer. Jika melalui jalur darat bisa ditempuh dengan kendaraan motor atau mobil . Dengan waktu jarak tempuh sekitar 1 jam.

Nama kampung Pematang Rambai sendiri berasal dari dua suku kata yakni kata Pematang yang dalam bahasa Indonesia memiliki arti tambak atau tanggul kecil untuk batas atau jalan di sawah, dan kata Rambai yang memiliki arti buah rambai. Rambai atau nama latin nya Baccaurea Racemosar merupakan sebutan lain buah menteng atau kepundung. Rambai merupakan pohon atau perdu yang bertajuk rimbun dengan tinggi antara 15-25 meter. Tanaman ini memiliki dua jenis buah yang berbeda yakni, berdaging buah putih dan satunya lagi berdaging buah warna merah. Kedua jenis ini memiliki buah yang berasa asam dan manis. Oleh warga setempat, pohon rambai dimanfaatkan buahnya untuk dimakan langsung sebagai buah segar. Sedangkan batangnya digunakan untuk kayu dalam membuat rumah.

Transportasi masyararakat di kampung Pematang Rambai, Sebelum jalan beraspal trans kalimantan dibangun oleh pemerintah, mereka menggunakan jalur sungai dengan moda transportasi kapal motor air. Jalur sungai yang dilewati adalah sungai Landak yang panjangnya membentang sampai dua kabupaten pedalaman Kalimantan Barat.

Sungai tersebut satu-satunya sungai yang melintasi kampung Pematang Rambai. Sungai Landak merupakan anak sungai Kapuas. Sungai ini mengalir dari utara ke arah barat daya Pulau Kalimantan dan sebagian besar melintasi wilayah Kabupaten Landak. Sungai Landak melintasi tiga wilayah yakni Kota Pontianak, Kabupaten Kubu Raya dan Kabupten Landak. Hulu Sungai Landak berada di Pegunungan Niut perbatasan Kabupaten Landak dengan Kabupaten Bengkayang tepatnya di Desa Tengon Pelaik. Sedangkan hilir Sungai Landak ada di Sungai Kapuas yang masuk ke wilayah administratif Kota Pontianak.

Oleh warga kampung Pematang rambai, Sungai Landak dimanfaatkan untuk kebutuhan sehari hari sebagai sarana transportasi, pengairan sawah, mandi dan mencuci serta untuk sumberdaya perikanan baik secara tradisional dengan cara memancing atau menjala maupun secara modern dengan membuat tambak ikan di tepian sungai.

Hingga saat ini masyarakat kampung Pematang Rambai masih familiar dengan nama – nama kapal motor air yang dahulu menjadi tumpangan orang jika hendak bepergian ke Kota Pontianak. Kalianget, Mekar Jaya, Selamat Pagi, Sinar Mutiara, dan Desa Indah. Kapal- kapal motor air tersebut saat ini hampir sudah tidak beroperasi lagi. Dari beberapa kapal motor air yang masih menjadi moda transportasi di sungai Landak bertahan hingga saat ini hanya Kalianget. Kalianget masih beroperasi setidaknya sebanyak 3 kali dalam seminggu membawa penumpang ke Pontianak.

Masyarakat kampung Pematang Rambai sudah beralih ke moda transportasi kendaraan sepeda motor dan mobil. Hampir semua orang di kampung Pematang Rambai sudah punya kendaraan bermotor. Sepeda motor dinilai lebih murah dan cepat.

Akses transportasi yang mempermudah dalam bepergian juga membuat banyak anak-anak muda di kampung Pematang Rambai banyak yang bekerja di Kota Pontianak. Sedikit sekali yang memilih bekerja sebagai petani. Bertani hanya dilakukan oleh para orang tua. Anak-anak muda di kampung yang tidak bekerja keluar, memilih pekerjaan sebagai peternak ayam atau bekerja di pabrik Sawit di Kampung Tengah.

Warga kampung Pematang Rambai berjumlah 91 kepala keluarga. Mereka tersebar dalam dua RT (Rukun Tetangga). Dilihat dari sisi etnis atau asal suku mereka terdiri dari suku Madura dan sebagian kecil suku Jawa. Pola pemukiman etnis Madura dan Jawa terpisah. Suku Jawa umumnya tinggal di tepian sungai Landak, sedangkan suku Madura mayoritas tinggal di wilayah daratan. Keberadaan suku Jawa di kampung Pematang rambai terbilang baru. Karena pada awalnya kampung Pematang Rambai hanya didiami oleh suku Madura.

Interaksi sosial antara suku Jawa dan Madura sering dijumpai di sawah. Mereka menggarap lahan sawah yang sama-sama berdekatan. Dahulu lahan yang digarap sama orang-orang Jawa merupakan lahan yang didapat melalui proses jual beli.

Bahasa penutur yang dipakai oleh orang Madura ketika berkomunikasi dengan orang Jawa umumnya adalah bahasa Indonesia. Meskipun tak jarang dijumpai dalam percakapan sehari-hari orang Madura bisa berbahasa Jawa begitu pula sebaliknya. Hubungan orang Jawa dan Madura di kampung Pematang Rambai terjalin sangat baik. Hampir tidak pernah dijumpai konflik sosial diantara mereka.

Fasilitas Pendidikan
Fasilitas pendidikan yang ada di kampung Pematang Rambai adalah Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) Melati, Madrasah Ibtaidaiyah Raudlatul Ulum dan Sekolah Dasar Negeri 17 serta terdapat Madrasah Tsanawiyah Raudlatul Ulum untuk pendidikan setara SMP. Semua pendidikan tersebut melaksanakan pengajaran dengan sistem kurikulum sebagaimana yang berlaku dilingkungan Kementerian Pedidikan Nasional dan Kementerian Agama Republik Indonesia.

Fasilitas Rumah Ibadah
Semua warga di kampung Pematang Rambai memeluk agama Islam. Baik yang suku Madura maupun Jawa. Terdapat dua masjid dan satu surau di kampung tersebut. Yakni Masjid Nurul Islam dan masjid Nur Daiman.

Majelis Taklim
Helmawati menguraikan definisi secara etimologis kata Majelis Taklim berasal dari bahasa Arab yang terdiri dari dua kata yaitu majelis dan Ta’lim. Majelis artinya tempat duduk sedangkan taklim diartikan pengajaran. Dengan demikian secara bahasa majelis taklim adalah tempat untuk melaksanakan pengajaran atau pengajian agama Islam [2013 : 79]

Dikampung Pematang Rambai terdapat dua majelis taklim yakni; majelis taklim masjid Nurul Islam dan majelis taklim masjid Nur Daiman. Kedua majelis taklim tersebut menjadi wadah berkumpul bagi kaum perempuan dalam :
1. Kegiatan membaca sholawat, yasinan serta solat berjamaah.
2. Pengajaran dan pengetahuan keagamaan serta belajar membaca Al-Qur’an dan memperdalam ilmu fiqih
3. Mengajarkan tentang ketauhidan, akhlak keseharian yang diselingin dengan tanya jawab terhadap Kiai atau pemuka agama yang memimpinnya.

Kampung KB
Tingginya angka kematian pada bayi yang baru lahir di kampung Pematang Rambai harus diselesaikan agar masalah kependudukan segera terselesaikan. Salah satu tindakan yang dibuat oleh pemerintah dalam menanggulangi permasalahan penduduk adalah membangun program yang dinamakan kampung KB. Progrman ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas hidup dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat yang ada permasalahan dalam hal kependudukan.

Kampung KB adalah satuan tingkat desa dengan kriteria tertentu, dimana terdapat keterpaduan program KKBPK (Kependudukan, Keluarga Berencana dan Pembangunan Keluarga) dan pembangunan sektor terkait dalam upaya meningkatkan kualitas hidup keluarga dan masyarakat.

Kampung KB di Pematang Rambai dicanangkan pada tanggal 10 Oktober 2017 oleh Bupati Kubu Raya H. Rusman Ali. Ini adalah program presiden Republik Indonesia dengan tujuan membangun Indonesia dimulai dari daerah pinggiran atau desa. Program Kampung KB dalam perencanaannya adalah sebagai berikut :
1. Meningkatkan jumlah peserta KB aktif
2. Meningkatkan partisipasi keluarga yang memiliki balita
3. Meningkatkan partisipasi keluarga yang memiliki remaja Bina Keluarga Remaja
4. Peningkatan lingkungan dan pemukiman yang sehat
5. Pembentukan usaha pengingkatan pendapatan keluarga sejahtera

*) Oleh Abdul Hamid

[Tulisan ini adalah bagian dari Buku Rokat Kampung]

Tentang Penulis: Abdoel Hamid

Gambar Gravatar
Blogger , penyiar radio misem dan penulis sosial budaya khususnya masyarakat madura kalimantan barat
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments