Bendera Merah Kuning Dalam Gelar Tradisi Rokat

oleh -1 views

 

Hal yang paling unik dalam tradisi Rokat Kampung di Pematang Rambai adalah pemasangan bendera merah kuning di gertak-gertak jembatan kampung dan di depan rumah pemuka kampung Pematang Rambai. Bendera ini dibuat dalam dua bentuk dan ukuran.

Pertama, bendera hias warna merah kuning yang dibuat dari  kertas minyak dengan warna merah dibagian atas dan warna kuning di bagian bawah yang dilekatkan pada lidi dari belahan bambu. Cara membuat bendera ini cukup sederhana, Pertama-tama membuat pola persegi panjang pada kertas minyak dengan menggunakan pulpen. Masing-masing satu buah untuk setiap warna. Digunting rapi. Kemudian menempelkan kertas berwarna merah diatas kertas berwarna kuning dengan menggunakan lem atau nasi. Dibagian pinggir bendera, ditempelkan lidi dari belahan bambu untuk pegangan.

Kedua, Bendera yang terbuat dari kain dengan ukuran 80 X 110 cm. Warnanya juga sama dengan bendera yang terbuat dari kertas minyak, yakni merah dibagian atas dan warna kuning dibagian bawahnya. Bendera ini diletakkan di depan rumah Bapak Seraman. Pemuka Kampung Pematang Rambai.

Menurut penuturan Rudeib, dibuatnya bendera merah kuning yang dipasang di gertak-gertak jembatan kampung sebagai simbol untuk memberikan sinyal atau tanda bahwa tradisi Rokat Kampung sedang dihelat. Pemasangan bendera di gertak jembatan juga mempermudah ingatan orang dengan Rokat Kampung karena umumnya gertak jembatan dilalui oleh banyak orang.

Hendri F. Isnaeni menjelaskan sejarah bendera dalam tulisan artikelnya yang berjudul Ada Apa dengan Bendera. Bendera mulanya disebut vexilloid. Kata ini berasal dari bahasa Latin, artinya panduan. Ia berupa logam atau tiang kayu dengan ukiran di atasnya. Baru sekira 2.000 tahun lalu, potongan kain atau bahan ditambahkan untuk dekorasi. Bahkan bendera menjadi kajian tersendiri, disebut vexillology. Organisasinya, F d ration Internationale des Associations Vexillologiques (FIAV) yang dibentuk pada 3 September 1967 di R schlikon, Swiss, mengadakan International Congress of Vexillology dua tahun sekali. Tahun ini akan diselenggarakan di Washington DC, Amerika Serikat. Bendera pertama digunakan untuk memberikan informasi dan membantu koordinasi militer di medan perang. Para ksatria, dalam seragam dan perlengkapan baju besi, membawa bendera agar membantu membedakan mana kawan dan mana lawan.

Pemasangan bendera dalam tradisi Rokat Kampung bertujuan untuk memberikan informasi kepada warga bahwa di hari itu sedang berlangsung“perhelatan” akbar ritual tolak bala’ sebagai tanda bhakti bahwa mereka masih menjaga tradisi leluhurnya.

Simbol warna merah pada bendera dibagian atas melambangkan ketegasan orang Madura dalam merawat alam. Menjaga keselarasan dengan alam atau menata lingkungan hidup dan kehidupan harus dilakukan oleh semua orang yang tinggal di kampung tersebut. Apabila ada segelintir orang yang merusak alam, maka masyarakat tegas mencegahnya.  Setiap individu memang  diberikan kebebasan untuk berkuasa dan mengolah tanah atas hak milik mereka. Tapi jangan lupa bahwa mereka punya tanggungjawab merawat lingkungannya.

Selanjutnya warna kuning pada bagian bawah memiliki makna optimisme, tidak mudah putus asa. Orang Madura tidak boleh mengeluhkan kondisi yang ada di sekitar alam mereka. Mereka harus berusaha memanfaatkannya untuk keberlangsungan hidupnya. Segala sesuatu bisa dieksplorasi sesuai kemampuan masyarakatnya. Bila Lingkungan tanah gambut dianggap tidak subur, maka harus diolah bersama-sama agar lahan gambut menjadi manfaat. Manusia dibekali akal dan pikiran yang bisa dimanfaatkan untuk mengatasi segala hal termasuk ketika lingkungan tak sesuai harapan.

 

Tentang Penulis: Abdoel Hamid

Gambar Gravatar
Blogger , penyiar radio misem dan penulis sosial budaya khususnya masyarakat madura kalimantan barat
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments