Dialek Dalam Bahasa Madura

oleh -5 views

 

Keraf mengatakan bahwa bahasa merupakan salah satu unsur dari kebudayaan. Sebagai alat komunikasi bahasa berperan penting dalam upaya melestarikan kebudayaan. Melalui bahasa kebudayaan dapat dibentuk, dibina, dikembangkan serta dapat diturunkan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Tanpa adanya bahasa, kebudayaan akan berhenti atau terputus hanya pada satu generasi saja. [2004:1]

Bahasa penutur dalam kesaharian masyarakat Madura di Kampung Pematang Rambai menggunakan bahasa Madura dan Bahasa Indonesia. Bahasa Madura adalah bahasa daerah yang digunakan sebagai sarana komunikasi dalam ruang lingkup keluarga maupun sesama anggota masyarakat yang ber-etnik Madura.

Bahasa Madura sendiri mempunyai banyak dialek. Dialek bahasa Madura dipengaruhi oleh banyak daerah yang penduduknya menggunakan bahasa Madura, sehingga setiap daerah yang menggunakan bahasa Madura cenderung daerah-daerah pengguna bahasa Madura mempunyai dialek tersendiri seperti dialek Sumenep, Pamekasan, Sampang, Bangkalan, dan bahkan juga di kepulauan Kangean mempunyai dialek sendiri.

Dialek bahasa Madura yang banyak dipakai oleh masyarakat Madura di Kampung Pematang Rambai adalah dialek Bangkalan. Hal ini tidak terlepas dari pengaruh masyarakat Madura yang mendiami kampung Pematang Rambai berasal dari Bangkalan. Adapun tingkatan bahasa yang sering digunakan dalam berkomunikasi adalah tingkatan bahasa terendah atau yang lebih dikenal dengan tingkatan bahasa Enja’-Iya.

Tingkatan bahasa Madura sendiri memiliki tiga tingkatan yakni ; “Enja’ Iye, Enggi Enten, dan Enggi Bunten” yang merupakan ondegga basa (tinggatan bahasa) dalam bahasa Madura. Tiap tinggkatan memiliki karakter dan ketentuan-ketentuan tertentu.

  1. Enja’Iye

Enja’ Iya merupakan tingkatan bahasa paling rendah (mapas) dalam bahasa Madura. Tingkatan ini biasanya digunakan oleh  orang yang lebih tua umurnya kepada anak-anak, orang yang lebih muda atau kepada teman yang sebaya atau seumuran. Misalnya seorang guru kepada santrinya, kakak kepada adiknya atau teman sepermainan yang telah akrab. Pada tingkatan ini tidak diperbolehkan diucapkan oleh orang yang lemih muda ke yang lebih tua.

  1. EngghiEnten

Tingkatan kedua dalam bahasa Madura adalah Engghi – Enten. Pada tingkatan ini penggunaan baha mulai diperhalus. Biasanya tingkatan bahasa ini digunakan oleh orang yang baru kenal, seorang pembicaraan antara mertua dan menantu, suami isteri.  Oleh karena itu dalam penggunaan ini antara kasar dan halus.

  1. Engghi Bhunten

Engghi Bhunten adalah tingkatan bahasa yang paling tinggi. Penggunaan ini dilakukan oleh orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua umurnya. Seperti seorang santri kepada kiai atau gurunya, seorang anak kepada orang tuanya, orang yang dimulyakan atau dituakan. Penggunaan bahasa dalam tingkatan ini sangat halus atau sopan.

Berikut ini beberapa contoh kata dalam tingkatan bahasa dalam bahasa Madura :

Enja’-Iya Engghi – Enten Engghi – Bhunten Indonesia
Ngakan Naddha Adha’ar Makan
Ta’taoh Bikan Ta’oning Tidak Tahu
Mole Paleman Gubar Pulang
Endha’ Poron Kasokan Suka
Ngedhing Mereng meyarsa Mendengar
Ngabas Nengale Ngoladhi Melihat
Engko’ Kauleh Abdhina Saya
Kakeh Sampean Panjennengngan- Ajunan Kamu

 

Keberadaan tingkatan bahasa dalam bahasa Madura bukan berarti untuk merendahkan atau meninggikan seseorang. Akan tetapi, tingkatan bahasa Madura merupakan suatu bentuk kesantunan berbahasa dalam melakukan komunikasi dengan orang lain dengan menggunakan bahasa Madura. Dengan adanya tingkatan bahasa dalam bahasa Madura, maka akan suatu penghargaan tersendiri antara penutur bahasa dengan mitra tuturnya.

Dalam masyarakat Madura di kampung Pematang Rambai tingkatan bahasa ini sangatlah penting, karena hal ini memberi kesan kepada sesama masyarakat Madura tentang sebuah tata krama yang amat baik. Dengan siapa mereka berbicara, mengetahui siapa lawan bicaranya, hingga pada akhirnya masyarakat tahu batasan yang harus di lakukan.

 

Di Kampung Pematang Rambai Salah satu ondegga basa (tinggatan bahasa) yang mulai pudar dalam kesaharian masyarakat adalah budaya berbahasa Engghi-Bhunten. Bahasa Engghi-Bhunten merupakan bahasa terhalus di Madura setelah bahasa Engghi-enten sebagai bahasa tingkat pertengahan dan Enja’-Iya sebagai bahasa tingkatan paling mapas- kasar. Dalam bahasa Madura, bahasa engghi-bhunten setingkat dengan bahasa Kromo Inggil dalam bahasa Jawa.

Dalam implementasinya, bahasa engghi-bhunten biasanya digunakan untuk berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan orang yang dihormati, semisal dari anak ke orang tua, santri ke kiai, murid ke gurunya, dan sejenisnya. Sebagai contoh, kata Panjennengngan atau Ajunan yang berarti “kamu” digunakan untuk memanggil seorang kiai oleh para santrinya, dan kata abdhina untuk diri sendiri ketika berbicara dengan yang lebih terhormat.

 

Tulisan ini merupakan bagian dari Buku Rokat Kampung

*) Abdul Hamid

Tentang Penulis: Abdoel Hamid

Gambar Gravatar
Blogger , penyiar radio misem dan penulis sosial budaya khususnya masyarakat madura kalimantan barat
Subscribe
Notify of
guest
0 Comments
Inline Feedbacks
View all comments